Kerakyatan dan Kebangsaan; 2 Semangat yang Hilang
Lama juga saya mencari bahan, untuk melanjutkan tulisan yang Di Sini dan Di Sini, namun akhirnya dapat juga bahan untuk melanjutkan postingan2 yang lalu. Ok! saya anggap sobat sudah pernah membaca postingan2 tsb, jadi langsung saja...
Selain terjadi shifting paradigm sebagai mana yang pernah saya uraikan pada tulisan saya yang berjudul Menjelang 9 April 2009, dalam proses perpolitikan kita, secara sublim sebenarnya kita telah kehilangan semangat yakni 'semangat kebangsaan' dan 'semangat kerakyatan'. Mengapa founding fathers kita semisal Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka menjadi patriot dan pioner perubahan bangsa? Jawabannya simple saja, ya! Simple, mengapa?... Karena mereka berjuang, berpolitik & memimpin dengan semangat kebangsaan & kerakyatan yang mengalir & mengental dalam diri mereka, hingga di setiap derap gerakan politik, dgn tegas mereka arahkan u/ mensejahterakan rakyat; mewujudkan kedaulatan & martabat bangsa. Tak heran jika foundin fathers ini adalah politisi & pemimpin yg miskin, tapi kaya dalam keluhuran perilaku politik. Kemiskiskinan dalam menjabat adalah kenikmatan, bukan penderitaan bagi mereka. Tapi kini, semangat ini menggupmal menjadi asap & hilang berhamburan di udara tak berjejak. Dalam konteks inilah, bicara soal pemimpin/politisi muda or tua, impor or lokal menjadi hal yg tak signifikan. Buat apa pilih yang muda atau tua, lokal atau impor, jika semangat kebangsaan & kerakyatan mereka telah mengepul menjadi asap yang tak berbekas dalam tidakan politik.
Kultur 'politik rabun ayam', yang ditegaskan dari visi jangka pendek & sikap pragmatis pemain demokrasi, mengancam demokrasi indonesia. Pada saat yang sama, demokrasi bangsa kian lunglai dalam tekan politik kekuasaan. Ekses negatif dari kultur 'politik rabun ayam' dan politik kekuasan adalah pola perilaku klien, tiran, kamuflase performance -- menjadi habitus politisi 'kita'. Kondisi inilah yang melahirkan generasi elit & kepemimpinan elitis; mereka berada di awang yang tak mampu hidup & besar bersama rakyat. Biasnya, diskontinutas semangat antara pemimpin & rakyat menjadi hal yang tak terhindarkan, maka tak heran jika politik 'kita' hanya mampu melahirkan pemimpim spesial yang bergerak berdasarkan hasrat menumpuk 'kebahagiaan' personal semata.
Khalayak mengetahui, hampir tak ada politisi, baik tua atau muda, lokal atau pun impor yang berdasarkan desakan dari atas, entah itu partai, kelompok, maupun ikatan primordialitas lainnya lainnya. Dalam kerangka ini, kepemimpinan rakyat merupakan kemestian untuk mematahkan kultur 'politik rabun ayam', & politik kekuasaan yang tengah berkembang saat ini. Kepemimpinan rakyat adalah politisi/pemimpin yg patut & pantas dipilih u/ menggerakkan & memimpin bangsa. Merekalah politisi/pemimpin yg memiliki ikatan emosional kerakyatan dgn semangat kebangsaan yang kuat. Kepemimpinan rakyat inilah sesungguhnya yang ditunggu oleh bangsa dalam momentum 9 April 2009 nanti. Semoga!!!.
By Indonesia Menulis.
Selain terjadi shifting paradigm sebagai mana yang pernah saya uraikan pada tulisan saya yang berjudul Menjelang 9 April 2009, dalam proses perpolitikan kita, secara sublim sebenarnya kita telah kehilangan semangat yakni 'semangat kebangsaan' dan 'semangat kerakyatan'. Mengapa founding fathers kita semisal Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka menjadi patriot dan pioner perubahan bangsa? Jawabannya simple saja, ya! Simple, mengapa?... Karena mereka berjuang, berpolitik & memimpin dengan semangat kebangsaan & kerakyatan yang mengalir & mengental dalam diri mereka, hingga di setiap derap gerakan politik, dgn tegas mereka arahkan u/ mensejahterakan rakyat; mewujudkan kedaulatan & martabat bangsa. Tak heran jika foundin fathers ini adalah politisi & pemimpin yg miskin, tapi kaya dalam keluhuran perilaku politik. Kemiskiskinan dalam menjabat adalah kenikmatan, bukan penderitaan bagi mereka. Tapi kini, semangat ini menggupmal menjadi asap & hilang berhamburan di udara tak berjejak. Dalam konteks inilah, bicara soal pemimpin/politisi muda or tua, impor or lokal menjadi hal yg tak signifikan. Buat apa pilih yang muda atau tua, lokal atau impor, jika semangat kebangsaan & kerakyatan mereka telah mengepul menjadi asap yang tak berbekas dalam tidakan politik.
Kultur 'politik rabun ayam', yang ditegaskan dari visi jangka pendek & sikap pragmatis pemain demokrasi, mengancam demokrasi indonesia. Pada saat yang sama, demokrasi bangsa kian lunglai dalam tekan politik kekuasaan. Ekses negatif dari kultur 'politik rabun ayam' dan politik kekuasan adalah pola perilaku klien, tiran, kamuflase performance -- menjadi habitus politisi 'kita'. Kondisi inilah yang melahirkan generasi elit & kepemimpinan elitis; mereka berada di awang yang tak mampu hidup & besar bersama rakyat. Biasnya, diskontinutas semangat antara pemimpin & rakyat menjadi hal yang tak terhindarkan, maka tak heran jika politik 'kita' hanya mampu melahirkan pemimpim spesial yang bergerak berdasarkan hasrat menumpuk 'kebahagiaan' personal semata.
Khalayak mengetahui, hampir tak ada politisi, baik tua atau muda, lokal atau pun impor yang berdasarkan desakan dari atas, entah itu partai, kelompok, maupun ikatan primordialitas lainnya lainnya. Dalam kerangka ini, kepemimpinan rakyat merupakan kemestian untuk mematahkan kultur 'politik rabun ayam', & politik kekuasaan yang tengah berkembang saat ini. Kepemimpinan rakyat adalah politisi/pemimpin yg patut & pantas dipilih u/ menggerakkan & memimpin bangsa. Merekalah politisi/pemimpin yg memiliki ikatan emosional kerakyatan dgn semangat kebangsaan yang kuat. Kepemimpinan rakyat inilah sesungguhnya yang ditunggu oleh bangsa dalam momentum 9 April 2009 nanti. Semoga!!!.
By Indonesia Menulis.
