Filosofi Kayla Tahzan


Sebelum menjadi www.indonesiamenulis.com, Blog ini pernah kuberi alamat URL kaylatahzan.blogspot.com. Mungkin ketika melihat URLnya sebagian orang akan mengira kalau blog ini di kelolala oleh seorang wanita, yang kalau kita fiqir-fiqir nama Kayla Tahzan sangat tersirat disandang oleh seorang wanita yang sangat catik. Uppss.... Cantik!


Dan mungkin juga, bagi Anda yang baik sengaja maupun tidak sengaja (Alias nyasar dari search engine) mengunjungi blog ini akan langsung merasa kecewa setelah mengetahui kalau blog ini sebenarnya hanya dikelola oleh seorang Santri Bengal seperti Kang Mus... Tapi itu, jika Anda termasuk para pemburu wanita dengan kedok sebuah nama Kayla Tahzan. Eitss! Jangan marah ya?...



Kayla Tahzan sebenarnya hanya sebuah kata yang berasal dari bahasa arab, yang berarti "agar Anda jangan bersedih". Nah itu tujuannya!! Sengaja kubersembahkan blog ini dengan harapan agar anda tidak bersedih. Khususnya blog ini kubersembahkan untuk keluargaku, yang pada kesempatan ini (06 Maret 2009) sedang dirundung kesedihan karena bayi mungil kami "Muhammad Jamil Abunjani" telah dijemput oleh para utusan dan dipangku oleh ribuan bidadari cantik.


Isi blog ini mungkin tidak penting bagi Anda, namun saya tetap berharaf, jika suatu saat Anda berkunjung ke blog saya, mudah-mudahan Anda dapat menemukan sebuah ketenangan, lagi-lagi agar Anda tidak bersedih.


Siapa pun Anda? apa pun profesi Anda? Di mana pun Anda berada? Dan apa pun status sosial Anda? Sama seperti saya, Anda tak mungkin lepas dari ancaman kesedihan. Sebab sedih dan bahagia adalah warna mutlaq di atas hamparan lukisan kehidupan di dunia ini. Ironisnya, tak seorang pun yang bersedia dihinggapi perasaan sedih. Bahkan setiap orang berusaha mengusir kesedihan, bagi manusia ibarat momok yang menghantui bocah di malam yang gelap gulita. Uppss!!! Momok?... Yo ngeri cah!!.


Blog ini sengaja kupersembahkan bagi Anda yang dirundung sedih dan kemalangan. Dengan membaca postingan di blog ini, harafanku seolah-olah Anda diajak berdialog oleh santri bengal versi Kangmus.


Kita bebas mengemukakan alasan mengapa kita sampai bersedih. Akan tetapi, alasan kita itu akan dihadapkan pada kekuatan dalil naqli (Wahyu) yang diperkuat dengan dalil 'aqli (akal). Hingga akhirnya kita akan bertanya kepada diri kita sendiri: Mengapa Aku harus bersedih, padahal setelah kesulitan ada kemudahan.



By Indonesia Menulis.
LihatTutupKomentar