Menjelang 9 April 2009
Maaf Sobat! Mungkin akan terasa sulit bagi Sobat memahami tulisan ini, sebelum membaca postingan saya yang Di Sini karena postingan ini merupakan lanjutan dari postingan saya yang berjudul Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009; Mencari Ruh Politik Yang Hilang, Dalam rangka menjadi Penggembira Kontest SEO yang di adakan oleh bang Pogung177. Jadi jangan terburu-buru membaca tulisan ini sebelum membaca yang itu, nanti malah gak mudeng. He..he..he..he..he!
Gimana? Apa sudah bisa kita lanjutkan? Ok! Langsung aja ya?, saya anggap sampeyan sudah pernah membacanya.
Gimana? Apa sudah bisa kita lanjutkan? Ok! Langsung aja ya?, saya anggap sampeyan sudah pernah membacanya.
Memahami realitas kekuasaan dan kepemimpinan bangsa saat ini, sesungguhnya telah terjadi shifting paradigm dalam proses perpolitikan Indonesia. Demokrasi yang kita jalankan hari ini sangat bertumpu pada doktrin individualisme dan liberalisme yang nyata-nyata jauh dari spirit komunitas dan semangat kultural yang membentuk kebangsaan kita. Akibatnya, individualisasi dan liberalisasi dalam dunia perpolitikan kita hanya menguntungkan elit dan para pemilik modal. Sebagai konsekuensinya tak heran mengapa kemudian proses dan arah bangsa ditentukan oleh segelintir orang yang memiliki kekuatan kapital. Sehingga kekuatan social capital tidak lagi menjadi sesuatu yang signifikan, bahkan kekuasaan rakyat kian hari terus digerus dan ditindas.
Namun di sisi lain yang nyaris tak kelihatan, rakyat mulai menyadari ketertindasan mereka, secara perlahan mereka bangkit dan melakukan upaya dekonstruksi terhadap dinansti-dinasti kekuasaan yang telah memapankan politik. Kejenuhan dan kesumpekan rakyat terhadap proses politik dan perilaku elit politik yang klientelistik, korup, dan hipokrit menuai respons kritis. Mandulnya mesin politik dalam melahirkan tokoh2 bangsa sebesar Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, KH. Hasyim Asy'ari, P. Di Ponegoro, mulai menuai petaka politik; rakyat mulai melakukan upaya perlawanan. Fenomena menangnya calon independent Pilkada Bupati Batu Bara Sumut, maraknya calon pemimpin muda, meningkat jumlah GOLPUT pada setiap Pilkada (ikut seruan mbah Gus Dur x ya?) adalah bukti dari perlawan rakyat terhadap mesin politik dan elit yang berkuasa.
Bentuk resitensi rakyat ini oleh James C. Scoot di istilahkan dengan "every day oppositian". Ini bermakna bahwa rakyat melakukan resistensi dengan cara acak dan tak teratur; mereka mengapresiasikan perlawanan dalam bentuk memperolok, main kucing-kucingan, berpura-berpura dsb. Sederhananya, kuras uangnya! Pilihan soal belakangan; mereka bak merpati, "jinak namun liar" - jinak untuk menguras uang tapi liar dalam pilihan. Ada makna penting dari resistensi ini, yakni selain untuk mengingatkan para elit akan penyimpangan politik di mana rakyat tidak bisa lagi dipecundangi, lebih dari itu resistensi ini juga memberi pertanda bahwa cycle hope dari gerakan resintensi akar rumput ini, betapa sesungguhnya kita membutuhkan kepemimpinan akar rumput; yaitu pemimpin rakya dan pemimpin bangsa yang lahir dan besar dari bawah; berjuang untuk rakyat; mengabdikan hidup bangsa dan tanah air.
By Indonesia Menulis.
Namun di sisi lain yang nyaris tak kelihatan, rakyat mulai menyadari ketertindasan mereka, secara perlahan mereka bangkit dan melakukan upaya dekonstruksi terhadap dinansti-dinasti kekuasaan yang telah memapankan politik. Kejenuhan dan kesumpekan rakyat terhadap proses politik dan perilaku elit politik yang klientelistik, korup, dan hipokrit menuai respons kritis. Mandulnya mesin politik dalam melahirkan tokoh2 bangsa sebesar Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, KH. Hasyim Asy'ari, P. Di Ponegoro, mulai menuai petaka politik; rakyat mulai melakukan upaya perlawanan. Fenomena menangnya calon independent Pilkada Bupati Batu Bara Sumut, maraknya calon pemimpin muda, meningkat jumlah GOLPUT pada setiap Pilkada (ikut seruan mbah Gus Dur x ya?) adalah bukti dari perlawan rakyat terhadap mesin politik dan elit yang berkuasa.
Bentuk resitensi rakyat ini oleh James C. Scoot di istilahkan dengan "every day oppositian". Ini bermakna bahwa rakyat melakukan resistensi dengan cara acak dan tak teratur; mereka mengapresiasikan perlawanan dalam bentuk memperolok, main kucing-kucingan, berpura-berpura dsb. Sederhananya, kuras uangnya! Pilihan soal belakangan; mereka bak merpati, "jinak namun liar" - jinak untuk menguras uang tapi liar dalam pilihan. Ada makna penting dari resistensi ini, yakni selain untuk mengingatkan para elit akan penyimpangan politik di mana rakyat tidak bisa lagi dipecundangi, lebih dari itu resistensi ini juga memberi pertanda bahwa cycle hope dari gerakan resintensi akar rumput ini, betapa sesungguhnya kita membutuhkan kepemimpinan akar rumput; yaitu pemimpin rakya dan pemimpin bangsa yang lahir dan besar dari bawah; berjuang untuk rakyat; mengabdikan hidup bangsa dan tanah air.
By Indonesia Menulis.
